,

Analisa: Kursi Presiden di Goyang!

Negara sebenarnya bisa saja melakukan tindakan represif atau persuasive

Analisa: Kursi Presiden di Goyang

Menjelang siang hari Rabu (16/11) status Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi tersangka penista agama. Penetapan status ini setelah melalui berbagai gejolak disebagian masyarakat bahwa Cagub DKI Petahana itu melakukan penistaan terhadap agama Islam. Faktanya, banyak pihak yang memandang statemen Ahok di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu bukan penistaan Agama.

Namun apa lacur, desakan sebagian umat yang mengklaim mewakili Islam di Indonesia melakukan aksi turun ke jalan 2 kali yakni 15 Oktober dan 4 November. Mereka mendesak tidak hanya Ahok untuk diperiksa atau dipenjara tetapi diberlakukan hukum Islam. Hal ini dikemukakan Tengku Zulkarnain dalam acara ILC TVOne yang menyatakan dalam Islam Ahok sudah dibunuh, dipotong tangan dan kakinya menyilang atau diusir dari Negara. Zulkarnain berbicara selaku Wasekjen MUI pusat.

Desakan pengusutan kasus Ahok terus bergulir serta banyak pihak menuding Presiden Joko Widodo melindungi Ahok. Dalam berbagai kesempatan paska demonstrasi 4 November yang berakhir rusuh itu, Presiden menegaskan berkali-kali bahwa dirinya tidak mengintervensi proses hukum.

Jangankan ditingkat kepolisian, di pengadilanpun bagi Jokowi pantang dilakukan. Penegasan tersebut disampaikan Presiden mulai saat bertemu dengan NU, Muhammadiyah, berkunjung ke Mako Kopassus hingga dalam Silatnas Ulama serta rangkaian acara yang digelar PPP maupun PAN. Di berbagai media masih saja tuduhan melindungi Ahok mewarnai media social kita. Hal ini bisa terjadi karena FPI sebagai motor utama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) terus menerus mengiagitasi serta menyebar berbagai media online dari kelompok mereka sendiri.

Bahkan ketika bom Molotov meletus di Gereka Okumeme Samarinda yang menyebabkan salah satu korbannya Intan meninggal dunia, kelompok FPI melalui Tengku Zulkarnain menuding aksi itu hanya rekayasa. Tuduhan-tuduhan keji, fitnah dan tanpa alasan itu terus menerus dialamatkan kepada presiden,

Negara sebenarnya bisa saja melakukan tindakan represif atau persuasive pada mereka. Namun hal itu pantang dilakukan Jokowi. Presiden ingin masyarakat matang berdemokrasi secara alamiah. Setelah sehari sebelumnya Polri menggelar perkara dugaan penistaan agama, kini Ahok telah menjadi tersangka. Penetapan tersangka Ahol membuktikan Presiden Jokowi benar-benar berdiri diatas hukum yang berlaku. Apapun keputusan Polri, Presiden akan menerima konsekuensinya. Meski telah ditetapkan sebagai tersangka namun gerombolan yang mengatasnamakan Islam yakni FPI dan sebagian anggota MUI tetap memprovokasi melalui media sosial.

Keriuhan media sosial tetap terjadi karena kubu yang mengatasnamakan Islam masih menggelorakan rencana demonstrasi 25 November mendatang. Bahkan pimpinan mereka meminta umatnya menarik uang tabungan mereka semuanya untuk membiayai sendiri demonstrasi. Para pimpinan GNPF MUI seperti Habib Rizieq, Tengku Zulkarnain, Bachtiar Nasir, Munarman makin kelihatan kepentingannya tatkala di youtube banyak video yang mengungkap bahwa omongan mereka tidak hanya memprovokasi namun mengajak makar.

Provokasi untuk penarikan uang ini makin menunjukkan bahwa GNPF MUI memang bukan hanya memancing, tetapi membuat kacau negeri ini agar Jokowi turun. Disini bisa dianalisa, status Ahok sebagai tersangka sebetulnya bukan target mereka melainkan hanya entry point menggoyang kursi presiden.

Penulis : Alif Kholifah
[ Sumber : Redaksi Indonesia ]

Penyampai Wangsit : admin

Saya selalu melihat yg terburuk menjadi yang terbaik dengan sihir naga.