,

Mengapa Pemimpin Etnis Tionghoa di Indonesia rapuh dengan Isyu?

Mereka masih duduk dalam kotak rapuh isyu agama dan politik

Gubernur Jakarta Basuki Purnama telah memberikan ekstremis Islam kesempatan yang mereka cari.  Agama dan politik tampaknya berkembang menjadi campuran bahan peledak dimana Indonesia sekali lagi menemukan jati dirinya harus bergulat dengan masalah di mana interpretasi ajaran Islam konservatif berbeda dengan konstitusi negara.

Ketika Gubernur DKI Jakarta Basuki Purnama mengatakan para pemilih mereka tidak harus membiarkan diri mereka tertipu oleh interpretasi umum dari sebuah ayat Al-Quran yang memerintahkan mereka untuk tidak memilih pemimpin non-Muslim, ia telah memberi ekstremis Islam kesempatan yang mereka cari.

Sebagai seorang Kristen etnis Cina yang, pada kenyataannya, juga bersekolah Islam di provinsi asalnya Bangka-Belitung (SCMP mengutip pernyataan Ahok yg Sekolah Negeri berarti Sekoah Islam), Akok sekarang menghadapi tuduhan kemungkinan penghujatan yang bisa menghalanginya menduduki masa jabatan kedua di pemilihan gubernur Februari mendatang.

Dia sebenarnya harus menyadari sejak awal, tapi kecerobohannya tidak menjelaskan kekuatan protes, yang telah menarik tidak hanya Front Pembela Islam (FPI) dan kelompok radikal lainnya, tetapi juga kepentingan politik yang tertarik untuk menutup pintu pada pria yang dikenal sebagai “Ahok” tersebut.

Didukung oleh Partai mantan presiden Megawati Soekarnoputri Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Ahok masih bertengger di puncak jajak pendapat mengatasi mantan menteri pendidikan Anies Baswedan dan Agus Yudhoyono, putra sulung mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kedua rival Ahok yang tampil di menit terakhir, dengan Anies Baswedan sebagai pilihan Partai berbasis Syariah Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Gerindra mantan calon presiden Prabowo Subianto ini.

Dibanding adiknya Edhie Baskoro alias Ibas, telah gagal menampilkan dirinya sebagai politisi, Agus Yudhoyono dicopot dari karir militernya yang menjanjikan untuk mewakili ayahnya di Partai Demokrat dalam apa yang tampaknya menjadi upaya untuk menciptakan politik dinasti – entah dia kelak akan menang sebagai gubernur atau tidak.

Sejak Ahok diangkat dari posisi wakil gubernur saat Joko Widodo dilantik menjadi presiden Indonesia pada akhir 2014, kelompok garis keras telah menyebutnya sebagai pemimpin kafir yang diangkat sebagai manajer ibukota Indonesia, bahkan terbukti Ahok sangat efektif.

Masih ada beberapa hal yang harus diperhatikan apakah para pemilih Ibukota menaruh perhatian penuh kepada serangan balik yang membawa ribuan demonstran berjubah putih ke jalan-jalan pada hari Jumat tersebut. Pada tahun 2014, Widodo dan Purnama memang menang besar, terutama karena pemilih tidak terkesan dengan upaya primordial untuk mendiskualifikasi mereka.

Muslim Indonesia sebenarnya tidak terlalu toleransi religius seperti yang ditampilkan, hanya 11 sampai 15 persen yang telah memilih partai berbasis syariah di empat pemilu nasional sebelumnya sejak Indonesia memulai jalan menuju demokrasi pada tahun 1998.

Namun kenyataan ini tidak berlaku untuk proses Posisi teratas di Negara Indonesia. Mungkin butuh proses sangat panjang, jika memang ada kesempatan, seorang non-Muslim menjadi presiden Indonesia.

Demikian pula, kaum nasrani tidak pernah bisa berharap untuk menjadi kepala angkatan bersenjata atau Kepala polisi nasional, tidak peduli seberapa kompeten mereka.

Presiden Yudhoyono telah banyak dikritik karena tidak berpihak pada kelompok-kelompok ekstremis. Memang, kembali pada tahun 2013, sebuah laporan Human Rights Watch intoleransi agama telah sampai pada tahap “out of control” di Indonesia dan mengatakan kegagalan tersebut adalah tanggung jawab resmi negara karena mengakomodasi kelompok-kelompok ekstremis meraih “puncak pemerintahan di Indonesia”.

Sekarang Jokowi dan pemimpin politik lainnya tampak mengikuti kebijakan yang lemah yang sama, memungkinkan para ekstremis yang sama untuk merebut momentum dan menghasut kebencian terhadap Ahok, yang telah meminta maaf lima hari setelah ia berkomentar.

Majelis Ulama Indonesia, (MUI), sebuah badan non-pemerintah terkenal tidak menentramkan suasana, bahkan selama presiden Yudhoyono berkuasa selalu mengeluarkan fatwa konservatif terhadap sekularisme, pluralisme dan liberalisme diantara antara putusan kontroversial lainnya.

Dalam menentukan bahwa Ahok telah melakukan penghujatan, MUI menyatakan bahwa ayat Quran yang dikutip Ahok secara eksplisit melarang non-Muslim menjadi pemimpin di sebuah negara dimana Muslim merupakan mayoritas persen 88%.

Tapi kesulitan di sini adalah bahwa posisi tersebut bertentangan dengan UUD 1945 yang menjamin kebebasan beragama, dimana Yudhoyono sendiri dianggap bersalah karena tidak membela dan yang lebih penting, menjadikan status Indonesia sebagai negara sekuler.

Polisi pun dianggap lambat dalam menindaklanjuti tuduhan penghujatan. masih diperdebatkan faktor penistaan agama, Kapolri Tito Karnavian adalah mantan kepala elit Densus 88 unit kontraterorisme yang telah bertanggung jawab untuk memenjarakan ribuan militan sejak dibentuk pasca dahsyat bom Bali 2002 .

Karnavian dan pejabat kontraterorisme lainnya (BNPT ?) sering dikritik bahwa faktanya tidak cukup banyak hal telah dilakukan untuk mencegah jenis retorika inflamasi dari ulama ekstremis yang berfungsi sebagai dasar-dasar ideologi terorisme dan tindakan kekerasan lainnya.

Presiden Jokowi dan pemimpin politik lainnya telah cukup menghindari setiap kritik dari kelompok garis keras, tetapi sebagai pakar terorisme Sidney Jones menunjukkan dalam kolom terakhir, justru pada unsur-unsur yang sama pemerintah berturut-turut telah berulang kali gagal untuk menghadapinya.

“Inilah sebabnya mengapa ekstremisme dan intoleransi tumbuh di Indonesia,” tulisnya, “karena tidak ada yang berani menarik garis dan mengakui terinspirasi agama hasutan untuk apa itu, apalagi mengutuk atau mengambil tindakan untuk menghentikannya.”

Penulis : John McBeth – 5 November 2016

[ diterjemahkan bebas dari South China Morning Post http://www.scmp.com/week-asia/opinion/article/2043137/why-ethnic-chinese-leader-indonesia-sitting-tinder-box-religion ]

Penyampai Wangsit : admin

Saya selalu melihat yg terburuk menjadi yang terbaik dengan sihir naga.